Langsung ke konten utama

Strategi Pembelajaran 2

TUGAS LAPORAN BACAAN

MAGANG

"JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN"

Dosen Pengampuh: Farninda Aditya, M. Pd.

Oleh:

Pratiwi Amalia Putri

4F, Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak

(12001218)


Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada pembentukan sikap yang positif pada diri peserta didik. Strategi pembelajaran afektif pada umumnya menghadapkan peserta didik pada situasi yang mengandung konflik atau situasi yang problematis. Melalui situasi ini diharapkan peserta didik dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik (Sanjaya, 2006).

Berikut model strategi dari pembelajaran afektif:

  • Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh Mc. Paul, seorang humanis. Menurut Paul, pembelajaran moral peserta didik adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Tujuan penerapan model ini adalah agar peserta didik memiliki sikap peduli terhadap orang lain, dapat bergaul secara harmonis dengan orang lain, saling memberi dan menerima yang didasarkan atas rasa cinta dan kasih sayang.
Aplikasi dari model konsideransi ini adalah sebagai berikut.
  1. Menghadapkan peserta didik pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Menyuruh peserta didik untuk menganalisis masalah tersebut baik yang tersurat (yang tampak) maupun yang tersirat (yang tak tampak).
  3. Menyuruh peserta didik untuk menuliskan hasil analisisnya terhadap permasalahan yang dihadapi.
  4. Mengajak peserta didik untuk menganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan peserta didik.
  5. Mendorong peserta didik untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan peserta didik.
  6. Mengajak peserta didik untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
  7. Mendorong peserta didik agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri (Sanjaya, 2006).
  • Model Pengembangan Kognitif
Model pengembangan kognitif dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Menurutnya, moral manusia berkembang melalui tiga tingkat dan setiap tingkat terdiri dari dua tahap.

1. Tingkat Pra-konvensional

Pada tingkat ini memandang moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat pra-konvensional ini terdiri atas dua tahap.
- Tahap pertama, orientasi hukuman dan kepatuhan. Artinya, anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman. Dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negatif.
- Tahap kedua, orientasi instrumental-relatif. Pada tahap ini perilaku anak didasarkan kepada rasa adil berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.

2. Tingkat Konvensional

Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu-masyarakat. Dengan demikian, pemecahan masalah bukan hanya didasarkan kepada rasa keadilan belaka, akan tetapi apakah pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada tingkat konvensional ini mempunyai dua tahap.
- Tahap pertama, keselarasan interpersonal. Artinya, anak sadar bahwa ada hubungan antara dirinya dengan orang lain, dan hubungan itu tidak boleh dirusak.
- Tahap kedua, sistem sosial dan kata hati. Artinya, anak sudah menerima adanya sistem sosial yang mengatur perilaku individu (Sanjaya, 2006).

3. Tingkat Post Konvensional

Pada tingkat ini bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasarkan oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya secara individu. Pada tingkat ini terjadi dua tahap.
- Tahap pertama, kontrak sosial. Kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, bukan sekadar pemindahan sistem nilai.
- Tahap kedua, prinsip etis yang universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan kepada suatu kewajiban sebagai manusia.
  • Teknik Mengklarifikasi Nilai (VCT)
Teknik mengklarifikasi nilai merupakan teknik pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik ketika menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri peserta didik (Sanjaya, 2006).

VCT sebagai suatu teknik pembelajaran moral bertujuan:
  1. Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran peserta didik tentang suatu nilai.
  2. Membina kesadaran peserta didik tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya.
  3. Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada peserta didik melalui cara yang rasional dan diterima peserta didik, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik peserta didik.
  4. Melatih peserta didik bagaimana cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat (Masitoh dan Dewi, 2009).
Teknik pembelajaran klarifikasi nilai (VCT) menekankan pada usaha mengkonstruksi nilai yang yang dianggapnya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dalam praktik pembelajaran, menurut Sanjaya, (2006) teknik pembelajaran klarifikasi nilai dikembangkan melalui proses dialog antara pendidik dan peserta didik. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sehingga peserta didik dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya.


Strategi Pembelajaran Kontekstual

Strategi pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (sanjaya, 2006).

Ada tiga hal yang harus dipahami dari konsep strategi pembelajaran, yaitu:

  1. CTL menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi.
  2. CTL mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
  3. CTL mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan.
Simpulannya, strategi pembelajaran kontekstual adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan keaktifan dan keterlibatan siswa untuk mencari dan menemukan materi yang harus dikuasai dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata sehingga pada gilirannya siswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sanjaya (2006), terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.
  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada.
  2. Pemerolehan dan penambahan pengetahuan baru.
  3. Pemahaman pengetahuan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman.
  5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Selain itu, karakteristik lain dari strategi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
  1. Kerjasama
  2. Saling menunjang
  3. Menyenangkan
  4. Tidak membosankan
  5. Belajar dengan bergairah
  6. Pembelajaran terintegrasi
  7. Menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif (Trianto, 2009)
Strategi pembelajaran kontekstual atau CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Secara garis besar langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran kontekstual dalam kelas adalah sebagai berikut.
  • Mengembangkan pemikiran peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  • Melaksanakan sejauh mungkin inkuiri untuk semua topik yang akan diajarkan.
  • Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  • Menciptaakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
  • Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi model, bahkan media yang sebenarnya.
  • Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Rusman, 2010).

Strategi Pembelajaran Aktif

  • Card Sort (Sortir Kartu)
Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta, tentang objek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamisir kelas yang jenuh dan bosan (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • The Power of Two (Kekuatan Dua Kepala
Strategi pembelajaran ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang. Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik daripada berpikir sendiri (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • Team Quiz (Kuis Kelompok)
Strategi ini dapat meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik dalam suasana yang menyenangkan (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • Jigsaw
Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain (ZAini, Munthe, Aryani, 2007).
  • Every One Is a Teacher 
Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberi esempattan kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai pendidik bagi kawna-kawannya. Dengan strategi ini, peserta didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • Snow Balling
Strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi peserta didik secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh peserta didik secara berkelompok. Strategi ini akan berjalan dengan baik jika materi yang dipelajari menuntut pemikiran yang mendalam atau yang menuntut peserta didik untuk berpikir analisis bahkan mungkin sintesis (Zaini, Munthe, Aryani, 2007). Materi-materi yang bersifat faktual, yang jawabannya sudah ada di dalam buku teks mungkin tidak tepat diajarkan dengan strategi ini.
  • Information Search (Mencari Informasi)
Strategi ini sama dengan ujian open book. Secara berkelompok peserta didik mencari informasi (biasanya tercakup dalam pelajaran) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka (Zaini, Munthe, Aryani, 2007). Metode ini sangat membantu pelajaran untuk lebih menghidupkan materi yang dianggap kering.
  • Peer Lessons (Bealajar dari Teman)
Strategi ini baik digunakan untuk menggairahkan kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada teman-teman sekelas (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • Index Card Match (Mencari Pasangan)
Strategi ini cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).
  • The Learning Cell (Sel Belajar)
Strategi ini merupakan salah satu sistem terbaik untuk membantu pasangan peserta didik belajar dengan lebih efektif. Strategi ini dikembangkan oleh Goldshmid. Strategi ini, menunjuk pada suatu bentuk belajar kooperatif kooperatif dalam bentuk berpasangan, dimana peserta didik bertanya dan menjawab pertanyaan secara bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama (Zaini, Munthe, Aryani, 2007).


Strategi Pembelajaran Quantum

Strategi ini menekankan perkembangan pada keterampilan akademis dan keterampilan pribadi. Strategi pembelajaran quantum memberikan petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar (DePorter, 2007). Berikut prinsip-prinsip strategi pembelajaran quantum.

  1. Segalanya berbicara, termasuk lingkungan kelas, bahasa tubuh, desain pelajaran, dan lain-lain. Segalanya dalam lingkungan kelas hingga bahasa tubuh anda, dari kertas yang anda bagikan hingga rancangan pelajaran anda, mengirim pesan tentang belajar.
  2. Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam penggubahan anda mempunyai tujuan.
  3. Pengalaman sebelum pemberian nama. Pengalaman menciptakan ikatan emosional dan peluang untuk pemberian makna atau penamaan.
  4. Akui setiap usaha. Penelitian mendukung bahwa kemampuan peserta didik meningkat karena pengakuan pendidik.
  5. Jika layak dipelajari maka layak dirayakan. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi yang positif terhadap belajar. Selain itu, juga dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta didik dalam belajar.
Terkait nilai-nilai strategi pembelajaran quantum dalam pengembangan proses pembelajaran dapat dilihat dari dua sisi, yaitu konteks dan isi. Dari sisi konteks, nilai-nilai strategi pembelajaran quantum dalam pengembangan pembelajaran mencakup beberapa hal sebagai berikut.

  • Suasana yang Memberdayakan
Suasana yang memberdayakan berkaitan degan bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan peserta didik, dan sikap terhadap sekolah dan belajar. Untuk membangun suasana yang memberdayakan atau menggairahkan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu niat, hubungan, kegembiraan, pengambilan resiko, rasa saling memiliki, dan keteladanan.
  • Landasan yang Kukuh
Landasan yang kukuh merupakan kerangka kerja yang mencakup tujuan, prinsip-prinsip, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi anda dan peserta didik sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar. Sebuah komunitas belajar memiliki tujuan yang sama. Di kelas tujuan yang sama bagi seluruh peserta didik adalah mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran, menjadi pembelajar yang lebih baik dan berinteraksi sebagai pemain tim, serta mengembangkan keterampilan lain yang dianggap penting.
Ada beberapa prinsip yang perlu dikembangkan dalam Quantum Teaching, yaitu:
- Integritas: bersikap jujur, tulus, dan menyeluruh.
- Kegagalan awal kesuksesan.
- Bicaralah dengan niat baik.
- Hidup di saat ini.
- Komitmen.
- Tanggungjawab.
- Bersikap terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu anda memperoleh hasil yang dimaksudkan (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).
  • Lingkungan yang Mendukung
Lingkungan kelas harus ditata dengan baik sehingga mendukung proses belajar yang segar, hidup, dan penuh semangat. Di samping itu, lingkungan kelas seperti ini akan mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk berfokus dan menyerap informasi.
  • Rancangan
Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang dapat menumbuhkan minat peserta didik, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi. Adapun kerangka perancangan Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
- Tumbuhkan minat dengan cara sertakan diri mereka.
- Alami, artinya berikan mereka pengalaman belajar.
- Namai, artinya berika "data" tepat saat minat memuncak.
- Demonstrasikan, artinya berikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.
- Ulangi, berarti merekatkan gambaran keseluruhannya (mengulang materi).
- Rayakan, merupakan pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

Adapun karakteristik dari Quanttum teacher, yaitu:

  1. Antusias: menampilkan semangat untuk hidup.
  2. Berwibawa: menggerakkan orang.
  3. Positif: melihat peluang dalam setiap saat.
  4. Supel: mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik.
  5. Humoris: berhati lapang untuk menerima kesalahan.
  6. Luwes: menemukan lebih dari satu cara untuk mencapai hasil.
  7. Fasih: berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur.
  8. Tulus: memiliki niat dan motivasi positif.
  9. Spontan: dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil.
  10. Menarik dan tertarik: mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik.
  11. Menganggap peserta didik  mampu: percaya akan dan mengorkestrasi kesuksesan peserta didik.
  12. Menetapkan dan memelihara harapan tinggi: membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).

Referensi:
Dr. Wahyudin Nur Nasution, M. Ag. (2017). Strategi Pembelajaran. Penerbit: Perdana Publishing, Medan.

Komentar