TUGAS LAPORAN BACAAN
MAGANG 1
"JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN"
Dosen Pengampuh: Farninda Aditya, M. Pd.
Oleh:
Pratiwi Amalia Putri
4F, Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak
(12001218)
- Penyajian informasi, dapat dilakukan dengan ceramah, latihan atau demonstrasi.
- Tes penguasaan dan penyajian, ini bisa dilakukan bila dipandang perlu.
- Memberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah.
- Memberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.
Dapat dikatakan bahwa strategi pembelajran ekspositori pendidik cenderung melakukan pengawasan proses pembelajaran dengan aktif, sementara peserta didik menerima dan mengikuti apa yang diprogramkan dan disajikan oleh pendidik. Sehingga, strategi pembelajaran ekspositori ini merupakan proses pembelajaran yang lebih berpusat pada pendidik (teacher centered), yaitu pendidik menjadi sumber dan pemberi informasi utama (Jacobson, dkkk, 1989).
- Pada tahap pendahuluan pendidik menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, peserta didik mendengarkan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting.
- Pada tahap penyajian atas materi pendidik menyampaikan materi pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi untuk memperjelas materi yang disajikan dan diakhiri dengan penyampaian latihan.
- Pada tahap penutup pendidik melaksanakan evaluasi berupa tes dan kegiatan tindak lanjut seperti penugasan dalam rangka perbaikan dan pemantapan atau pendalaman materi.
- Strategi inkuiri menekankan keaktifan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan (peserta didik sebagai subjek belajar).
- Seluruh kegiatan yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
- Mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
- Orientasi. Pendidik mengkondisikan peserta didik agar siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam langkah ini, yaitu:
- Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
- Menjelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
- Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar, dalam upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar pserta didik. (Sanjaya, 2006).
- Merumuskan masalah. Tahapan untuk membawa peserta didik pada suatu problema yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki dengan diarahkan untuk mencari jawaban yang paling tepat. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah.
- Masalah sebaiknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik, karena peserta didik akan memiliki motivasi belajar yang tinggi ketika dilibatkan dalam merumuskan masalah yang akan dikaji.
- Masalah yang dikaji mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
- Konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah merupakan konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh peserta didik.
- Merumuskan hipotesis. Pada langkah ini peserta didik diharapkan mampu merumuskan jawaban sementara dari rumusan masalah yang sudah ditetapkan sebelumnya.
- Mengumpulkan data. Langkah ini sangat penting dalam pengembangan intelektual peserta didik, karena dalam proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, tetapi juga membutuhkan ketekunan dan keterampilan menggunakan kemampuan intelektualnya.
- Merumuskan kesimpulan. Merupakan proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Agar peserta didik dapat merumuskan kesimpulan dengan akurat, sebaiknya pendidik perlu membimbing peserta didik tentang data mana yang relevan dengan masalah yang hendak dicarikan solusinya.
- Rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan SPBM, peserta didik tidak hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi juga peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, serta menyimpulkan.
- Aktivitas pembelajaran difokuskan untuk menyelesaikan masalah.
- Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
- Merumuskan masalah, yaitu langkah peserta didik menentukan masalah yang akan dipecahkan.
- Menganalisis masalah, yaitu langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
- Merumuskan hipotesis, yaitu langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
- Mengumpulkan data, yaitu langkah peserta didik mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
- Pengujian hipotesis, yaitu langkah peserta didik mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
Ada 4 ciri dari sistem pembelajaran kooperatif, yaitu:
- Heterogenitas. Kelompok dibentuk secara heterogen dan multikultural dalam dalam arti jenis kelamin, kemampuan akademis, dan suku (Cruichshank, dkk, 1995).
- Jenis-jenis tugas diberikan pada kelompok. Kebanyakan jenis tugas yang diberikan menuntut setiap kelompok untuk mempelajari materi yang sebelumnya telah disajikan oleh pendidik.
- Tanggung jawab individu. Peraturan-peraturan perilaku anggota kelompok dalam sistem pembelajaran kooperatif antara lain adalah tanggung jawab individu, tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok, membantu dan mendorong anggota kelompok, membantu teman sebaya melalui tutorial dan kerjasama (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).
- Sistem penghargaan. Individu menerima penghargaan didasarkan usaha individu dan prestasi kelompok.
- Prestasi akademis. Menurut Leighton (1990), keberhasilan untuk meningkatkan prestasi dalam bidang akademis melalui strategi pembelajaran kooperatif, tergantung pada tiga karakteristik penting, yaitu tujuan kelompok, tanggung jawab individu, dan peluang yang sama untuk berhasil. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, antara lain adalah memberikan materi-materi yang harus dikerjakan secara bersama-sama, menugaskan anggota yang berbeda dalam satu kelompok untuk menguasai sejumlah materi yang berlainan dan kemudian mendiskusikannya dengan kelompoknya (Cooper, dkk, 2004).
- Penerimaan keberagaman. Melalui strategi pembelajaran ini, terbuka peluang bagi peserta didik yang beragam latar belakang dan kondisi, untuk saling bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama dengan menggunakan struktur penghargaan, belajar menghargai setiap yang lain.
- Pengembangan keterampilan sosial. Pendidik dapat membantu membimbing beberapa keterampilan sosial yang penting kepada peserta didik, antara lain: keterampilan mengkomunikasikan gagasan dan perasaan, membuat pesan tertentu, mdnyampaikan penghargaan, dan berpartisipasi (Borich, 1992).
Langkah-langkah secara umum dalam pembelajaran kooperatif.
- Persiapan. melitputi:
- Menentukan skor dasar awal berdasarkan nilai ujian akhir peserta didik tahun sebelumnya. (Slavin, 1995).
- Penyajian pelajaran, meliputi:
- Kerja kelompok, merupakan kegiatan ini bertujuan agar peserta didik belajar bersama untuk memahami materi. Sering kali pengkajian ini melibatkan peserta didik untuk mendiskusikan soal-soal bersama, membandingkan jawaban-jawaban, dan memperbaiki beberapa salah paham jika anggota kelompok membuat kesalahan. Agar kerja kelompok efektif, peserta didik perlu diberikan seperangkat pertanyaan, lembar kerja atau materi lain untuk membimbing diskusinya (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).
Komentar
Posting Komentar