Langsung ke konten utama

Strategi Pembelajaran (1)

TUGAS LAPORAN BACAAN

MAGANG 1

"JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN"

Dosen Pengampuh: Farninda Aditya, M. Pd.

Oleh:

Pratiwi Amalia Putri

4F, Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak

(12001218)


Strategi pembelajaran Ekspositori
Istilah ekspositori berasal dari konsep eksposisi yang artinya memberikan penjelasan. Menurut Jarolimek dan Foster (1981), pembelajaran eksposisi merupakan strategi yang dilakukan pendidik untuk mengatakan atau menjelaskan fakta-fakta, gagasan-gagasan, dan informasi-informasi penting lain kepada para peserta didik. Strategi pembelajaran ekspositori cenderung menekankan penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman pribadi.

Menurut Romiszowski (1984), strategi pembelajaran ekspositori berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut.
  1. Penyajian informasi, dapat dilakukan dengan ceramah, latihan atau demonstrasi.
  2. Tes penguasaan dan penyajian, ini bisa dilakukan bila dipandang perlu.
  3. Memberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah.
  4. Memberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.
Salah satu tujuan dari strategi pembelajaran ekspositori adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (Ausubel, dkk, 1978). Dalam strategi pembelajaran ekspositori pendidik merupakan sumber data yang penting dan sekaligus komponen penting dalam proses pembelajaran. Pendidik mengatur program belajar dan pendidik juga yang menemukan buku-buku dan materi-materi pembelajaran yang akan digunakan. Di samping itu, pendidik juga berperan dalam membimbing peserta didik untuk memperoleh jawaban yang benar sebagaimana yang dituntut dalam kurikulum. Pengarahan dan penjelasan pendidik dalam strategi pembelajaran ekspositori harus jelaas sehingga bisa dipahami peserta didik. pertanyaan dan penjelasan yang kurang jelas dapat membingungkan dan menghambar belajar peserta didik (Jarolimek dan Foster, 1981).

Dapat dikatakan bahwa strategi pembelajran ekspositori pendidik cenderung melakukan pengawasan proses pembelajaran dengan aktif, sementara peserta didik menerima dan mengikuti apa yang diprogramkan dan disajikan oleh pendidik. Sehingga, strategi pembelajaran ekspositori ini merupakan proses pembelajaran yang lebih berpusat pada pendidik (teacher centered), yaitu pendidik menjadi sumber dan pemberi informasi utama (Jacobson, dkkk, 1989). 

Menurut Al Rasyidin dan Nasution (2015), tahapan pembelajaran dalam strategi pembbelajaran ekspositori adalah sebagai berikut.
  • Pada tahap pendahuluan pendidik menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, peserta didik mendengarkan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting.
  • Pada tahap penyajian atas materi pendidik menyampaikan materi pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi untuk memperjelas materi yang disajikan dan diakhiri dengan penyampaian latihan.
  • Pada tahap penutup pendidik melaksanakan evaluasi berupa tes dan kegiatan tindak lanjut seperti penugasan dalam rangka perbaikan dan pemantapan atau pendalaman materi.

Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006). Berikut beberapa ciri utama dari pembelajran inkuiri.
  • Strategi inkuiri menekankan keaktifan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan (peserta didik sebagai subjek belajar).
  • Seluruh kegiatan yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
  • Mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan  kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Dalam strategi pembelajaran inkuiri, peserta didik tidak hanya dituntut dapat menguasai materi pelajaran, tetapi peserta didik juga dituntut untuk dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
Berikut langkah-langkah secara umum strategi pembelajaran inkuiri.
  • Orientasi. Pendidik mengkondisikan peserta didik agar siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam langkah ini, yaitu:
  1. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
  2. Menjelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
  3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar, dalam upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar pserta didik. (Sanjaya, 2006).
  • Merumuskan masalah. Tahapan untuk membawa peserta didik pada suatu problema yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki dengan diarahkan untuk  mencari jawaban yang paling tepat. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah.
  1. Masalah sebaiknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik, karena peserta didik akan memiliki motivasi belajar yang tinggi ketika dilibatkan dalam merumuskan masalah yang akan dikaji.
  2. Masalah yang dikaji mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
  3. Konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah merupakan konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh peserta didik.
  4. Merumuskan hipotesis. Pada langkah ini peserta didik diharapkan mampu merumuskan jawaban sementara dari rumusan masalah yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  5. Mengumpulkan data. Langkah ini sangat penting dalam pengembangan intelektual peserta didik, karena dalam proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, tetapi juga membutuhkan ketekunan dan keterampilan menggunakan kemampuan intelektualnya.
  6. Merumuskan kesimpulan. Merupakan proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Agar peserta didik dapat merumuskan kesimpulan dengan akurat, sebaiknya pendidik perlu membimbing peserta didik tentang data mana yang relevan dengan masalah yang hendak dicarikan solusinya.
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Strategi pembelajaran berbasis masalah diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang difokuskan kepada proses penyelesaian masalah secara ilmiah. Berikut karakteristik dari strategi pembelajaran berbasis masalah.
  • Rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan SPBM, peserta didik tidak hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi juga peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, serta menyimpulkan.
  • Aktivitas pembelajaran difokuskan untuk  menyelesaikan masalah.
  • Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
John Dewey (2006) menjelaskan ada 6 langkah SPBM yang ia namakan pemecahan masalah (problem solving) sebagai berikut.
  • Merumuskan masalah, yaitu langkah peserta didik menentukan masalah yang akan dipecahkan.
  • Menganalisis masalah, yaitu langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
  • Merumuskan hipotesis, yaitu langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
  • Mengumpulkan data, yaitu langkah peserta didik mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
  • Pengujian hipotesis, yaitu langkah peserta didik mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
Strategi Pembelajaran Kooperatif
Strategi Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi yang dalam implementasinya mengarahkan para peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan kelompok-kelompok yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran akan diberikan penghargaan. Adanya pemberian penghargaan tersebut bertujuan untuk mendorong setiap anggota kelompok untuk saling membantu antara satu dengan yang lain agar dapat menguasai materi dan mencapai tujuan bersama (Clarizio, dkk, 1987). Henson dan Eller (1999) mendefinisikan strategi pembelajaran kooperatif sebagai kerjasama yang dilakukan para peserta didik untuk mencapai tujuan bersama.

Ada 4 ciri dari sistem pembelajaran kooperatif, yaitu:

  • Heterogenitas. Kelompok dibentuk secara heterogen dan multikultural dalam dalam arti jenis kelamin, kemampuan akademis, dan suku (Cruichshank, dkk, 1995).
  • Jenis-jenis tugas diberikan pada kelompok. Kebanyakan jenis tugas yang diberikan menuntut setiap kelompok untuk mempelajari materi yang sebelumnya telah disajikan oleh pendidik.
  • Tanggung jawab individu. Peraturan-peraturan perilaku anggota kelompok dalam sistem pembelajaran kooperatif antara lain adalah tanggung jawab individu, tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok, membantu dan mendorong anggota kelompok, membantu teman sebaya melalui tutorial dan kerjasama (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).
  • Sistem penghargaan. Individu menerima penghargaan didasarkan usaha individu dan prestasi kelompok.

Selanjutnya, pembelajaran kooperatif memiliki 3 tujuan penting, yaitu prestasi akademis, penerimaan keberagaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Arends, 1998).
  • Prestasi akademis. Menurut Leighton (1990), keberhasilan untuk meningkatkan prestasi dalam bidang akademis melalui strategi pembelajaran kooperatif, tergantung pada tiga karakteristik penting, yaitu tujuan kelompok, tanggung jawab individu, dan peluang yang sama untuk berhasil. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, antara lain adalah memberikan materi-materi yang harus dikerjakan secara bersama-sama, menugaskan anggota yang berbeda dalam satu kelompok untuk menguasai sejumlah materi yang berlainan dan kemudian mendiskusikannya dengan kelompoknya (Cooper, dkk, 2004).
  • Penerimaan keberagaman. Melalui strategi pembelajaran ini, terbuka peluang bagi peserta didik yang beragam latar belakang dan kondisi, untuk saling bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama dengan menggunakan struktur penghargaan, belajar menghargai setiap yang lain.
  • Pengembangan keterampilan sosial. Pendidik dapat membantu membimbing beberapa keterampilan sosial yang penting kepada peserta didik, antara lain: keterampilan mengkomunikasikan gagasan dan perasaan, membuat pesan tertentu, mdnyampaikan penghargaan, dan berpartisipasi (Borich, 1992).
Strategi pembelajaran kooperatif efektif digunakan untuk materi yang memuat informasi tentang keterampilan-keterampilan dasar. Strategi ini merupakan strategi pembelajaran yang memadukan antara aktivitas kerjasama dan kompetensi.

Langkah-langkah secara umum dalam pembelajaran kooperatif.

  • Persiapan. melitputi:
- Penentuan bahan/materi ajar sesuai dengan kurikulum, pembuatan lembar kerja peserta didik, lembar jawaban kerja peserta didik.
- Pembentukan kelompok berdasarkan peringkat peserta didik. Misal, setiap kelompok terdiri dari empat anggota, yang masing-masing kelompok terdiri dari satu peserta didik berprestasi tinggi, dua peserta didik berprestasi sedang, dan satu peserta didik berprestasi rendah.
- Menentukan skor dasar awal berdasarkan nilai ujian akhir peserta didik tahun sebelumnya. (Slavin, 1995).

  • Penyajian pelajaran, meliputi:
- Pembukaan, berisi penjelasan tentang materi yang akan dipelajari dan mengulang secara ringkas materi sebelumnya (prasyarat).
- Pengembangan, fokus pada pemahaman, menilai pemahaman peserta didik dengan memberi pertanyaam, menjelaskan mengapa jawaban salah atau benar, kecuali jawabannya telah nyata.
- Bimbingan-latihan, seperti semua peserta didik mengerjakan soal atau mempersiapkan jawaban, pilih peserta didik secara acak, agar semua peserta didik menyiapkan jawabannya masing-masing (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).

  • Kerja kelompok, merupakan kegiatan ini bertujuan agar peserta didik belajar bersama untuk memahami materi. Sering kali pengkajian ini melibatkan peserta didik untuk mendiskusikan soal-soal bersama, membandingkan jawaban-jawaban, dan memperbaiki beberapa salah paham jika anggota kelompok membuat kesalahan. Agar kerja kelompok efektif, peserta didik perlu diberikan seperangkat pertanyaan, lembar kerja atau materi lain untuk membimbing diskusinya (Al Rasyidin dan Nasution, 2015).

Referensi:
Dr. WAhyudin Nur Nasution, M. Ag. (2017). Strategi Pembelajaran. Penerbit: Perdana Publishing, Medan.

Komentar