Langsung ke konten utama

Kultur Sekolah

LAPORAN BACAAN

MAGANG 1

"MEMBENTUK KARAKTER DISIPLIN SISWA MELALUI KULTUR SEKOLAH"

Dosen Pengampuh: Farninda Aditya, M. Pd.

Oleh:

Pratiwi Amalia Putri

4F, Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak

(12001218)


Salah satu penentu dalam kemajuan suatu negara dilihat pada keberhasilan pengembangan sektor pendidikannya. Sebagaimana konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Pendidikan yang tidak didasari oleh kebudayaan akan menghasilkan generasi yang terasingkan dari kehidupan masyarakatnya.

Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dan memberikan layanan yang terbaik bagi siswa. Para siswa memiliki hak untuk mendapat layanan terbaik yang dapat diberikan oleh sekolah. Oleh karena itu, kultur sekolah merupakan hal yang penting dalam pendidikan.

Budaya (kultur) sekolah adalah jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orang tua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Selain itu, budaya sekolah juga diartikan sebagai cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja.

Dalam penelitian (Daryanto & Darmiatun, 2013), kultur sekolah memiliki beberapa fungsi, yaitu (a) kultur sekolah meningkatkan perhatian dan perilaku sehari-hari warga sekolah terhadap apa yang penting dan bernilai bagi sekolah, (2) kultur sekolah membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk melakukan identifikasi diri dengan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan tertentu di sekolah, (c) kultur sekolah dapat memperkuat dan memperjelas motivasi dalam diri setiap warga sekolah, dan (d) kultur sekolah akan mempertinggi tingkat efektivitas dan produktivitas.

Menurut Peterson (2002), budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur sebagai berikut.

  1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
  2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.
  3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
  4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah, gedung sekolah, dan perlengkapan lainnya.

Selanjutnya, implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah memiliki beberapa aspek-aspek yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah, yaitu:

  1. Visi dan Nilai
  2. Upacara dan Perayaan
  3. Sejarah dan Cerita
  4. Arsitektur dan Artefak

Tiap-tiap sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah sehingga adanya keberagaman budaya disetiap sekolah. Pengembangan budaya di masing-masing sekolah ada yang menekankan budaya yang fokus mendorong pencapaian prestasi akademik, ada juga yang menekan di bagian prestasi non-akademik. Hal ini disesuaikan dengan aspek-aspek seperti visi-misi, kondisi, dan potensi sekolah. Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan,yaitu:

  1. Prestasi Akademik
  2. Prestasi Non-Akademik
  3. Karakter
  4. Kelestarian Lingkungan Hidup

Pembentukan Karakter Disiplin Siswa Melalui Kultur Sekolah

Kultur sekolah diyakini memiliki peran dalam menghasilkan produktivitas kerja yang baik pada masing-masing individu dan unit kerja sekolah. Dalam penelitian Muhammad Sobri, dkk (2019) bahwa karakter disiplin siswa dapat dibentuk melalui budaya sekolah yang teridentifikasi melalui artifak sekolah, tata tertib, upacara-upacara yang rutin dilaksanakan di sekolah, dan nilai-nilai atau keyakinan yang dianut oleh warga sekolah.

A. Artifak Sekolah

Arsitektur dan tata ruang sekolah dapat dijadikan sebagai sumber belajar dan perlu dikaitkan dengan kompetensi dasar dalam proses pembelajaran. Mulyasa (2016, p. 25) mengemukakan bahwa ada dua pemanfaatan arsitektur termasuk fasilitas dan sumber belajar guna mensukseskan implementasi pendidikan karakter. Pertama, dengan cara membawa sumber belajar ke dalam kelas, misalnya dengan menayangkan gambar atau video melalui bantuan LCD proyektor. Kedua, membawa siswa yang ada di dalam kelas ke lapangan tempat sumber belajar berada, hal ini disebabkan karena sumber belajar mengandung resiko tinggi dan memiliki karakteristik yang tidak bisa dibawa ke dalam kelas, misalnya museum.

Selain itu, artifak sekolah juga dapat diamati dari cara berpakaian, dimana penggunaan seragam ini sudah diatur oleh pihak sekolah. Namun pakaian seragam tidak hanya diberlakukan pada siswa saja, melainkan kepada para guru dan tenaga kerja yang lain. Keterlibatan seluruh warga sekolah merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pembentukan karakter siswa (Muhammad Sobri, dkk, 2019). 

Mulyasa (2016, pp. 37-38) menjelaskan ada tiga step yang dapat dilakukan dalam melibat warga sekolah untuk mendukung pendidikan karakter. Pertama, seluruh staf bertanggung jawab penuh dalam memberikan keteladanan berdasarkan nilai-nilai etika yang dianut di sekolah. Kedua, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku sama-sama mempengaruhi kehidupan secara kolaboratif antara siswa dan staf. Ketiga, pihak sekolah senantiasa melakukan refleksi moral bagi para staf. 

B. Tata Tertib

Dilihat pada realitas dalam lingkungan sekolah, terdapat keberagaman sifat dan karakter yang dimiliki oleh setiap siswa. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat kedisiplinan dan ketertiban di sekolah yang harus selalu ditegakkan guna menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perlu adanya tata tertib sekolah sebagai tatanan guna mengatur kedisiplinan dan ketertiban siswa.

Tata tertib sekolah dibuat secara resmi oleh pihak yang berwenang dengan melihat berbagai macam pertimbangan yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah tersebut. Tata tertib sekolah memuat hal-hal yang diwajibkan maupun hal-hal yang dilarang untuk siswa selama mereka berada di lingkungan sekolah dan apabila ternyata terjadi pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa maupun warga sekolah lainnya, maka pihak sekolah memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Terlaksananya tata tertib sekolah yang tepat, jelas, konsekuen, dan diawasi dengan sungguh-sungguh dapat menciptakan suasana belajar di sekolah yang tertib, damai, dan tentram.

C. Upacara-Upacara di Sekolah

Ada beberapa kegiatan upacara yang biasa dilaksanakan di sekolah, yaitu seperti upacara bendera, upacara yasinan bersama di hari jum'at, dan upacara perayaan hari besar nasional. Pada kegiatan upacara siswa diharuskan datang tepat waktu dan harus menggunakan seragam sekolah serta atribut yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sekolah. Sekolah menetapkan aturan bahwa siswa yang tidak mengikuti upacara atau tidak rapi dan tidak menggunakan atribut sekolah maka akan diberikan hukuman.

Pemberian hukuman pada siswa dapat meningkatkan kedisiplinan siswa (Novitasari, 2019, pp. 27-28). Prinsip pemberian hukuman diterapkan sebagai motivasi atau dorongan bagi siswa agar dapat belajar lebih sungguh-sungguh dan dapat mentaati peraturan. Bentuk-bentuk hukuman dapat berupa verbal dan non verbal. Selain itu, kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan terencana dapat membentuk karakter disiplin siswa. Menurut (Dewi, dkk, 2019), pelaksanaan pendidikan karakter melalui kultur sekolah difokuskan karakter disiplin diperoleh melalui kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan keteladanan.

D. Nilai-Nilai dan Keyakinan

Nilai-nilai dan keyakinan disetiap sekolah dapat tersirat melalui visi dan misi pada masing-masing sekolah. Dalam mendukung tercapainya visi dan misi, sekolah mengaktifkan program-program yang harus diikuti oleh siswa. Misalnya, seperti kegiatan pramuka yang merupakan kegiatan ekstrakulikuler wajib untuk diikuti oleh semua siswa sebagai upaya penyaluran bakat dan minat siswa serta untuk mendukung pembentukan karakter.

Tidak hanya itu, pembentukan disiplin juga dapat dilakukan melalui usaha internalisasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Implementasi karakter disiplin melalui kegiatan pembelajaran yakni dengan cara pemberian nasehat untuk selalu disiplin, siswa diberikan teladan langsung oleh guru. Implementasi karakter disiplin harus bersifat konsisten dan tetap.

Selanjutnya, nilai-nilai yang dianut warga sekolah dapat diintegrasikan dalam pembelajaran berbagai bidang studi yang dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa karena mereka memahami, menginternalisasi, dan mengaktualisasikannya melalui proses pembelajaran. Kemudian, apabila nilai-nilai tersebut dapat dikembangkan melalui kultur sekolah, maka kemungkinan besar nilai karakter disiplin lebih efektif (nilai-nilai tersebut dapat terserap alami melalui kegiatan sehari-hari).


Referensi:

Ariefa Efianingrum. (2016). Kultur Sekolah. Jurnal: Pemikiran Sosiologi, Vol. 2, No. 1.

Muhammad Sobri, dkk. (2019). Pembentukan Karakter Disiplin Siswa Melalui Kultur Sekolah. Jurnal: Pendidikan IPS, Vol. 6, No. 1.

Rudolof Ngalu. (2019). Pendidikan Karakter Melalui Pengembangan Kultur Sekolah. Jurnal: Lonto Leok Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 2, No. 1.

Komentar