Langsung ke konten utama

Father Is The First Love A Child

"Pokoknye bapak dak usah datang ye, tunggu kabar yak nantik menang atau kalah." Celotehku kepada bapak yang sedang mengisap sepuntung rokok. Namun, beliau hanya diam dan tak menggubris ocehanku.

Bila mendengar kata 'Bapak', tentu bagi anak perempuan akan mengatakan sosok bapak atau bahasa lebih kerennya 'ayah' adalah cinta pertama mereka. Ayah merupakan sosok figur pertama sebagai orang tua yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Walau ada di dalam hadits Rasul tentang 'Kepada Siapakah Aku Harus Berbakti Pertama Kali?' Maka, Rasul menyebut Ibu pertama kali sebanyak 3x dan selanjutnya barulah Ayah. Tapi menurutku, ayoman dan kasih sayang seorang Ayah terhadap anaknya sama besarnya.

Secara filosofis ayah memang terlihat tegar, bisa menahan air mata, dan bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Ayah tidak mau terlihat lemah dan akan selalu berusaha untuk terlihat tegar dihadapan anak-anaknya. Dan, darinya-lah aku belajar tentang ketegaran, karena tahu sendiri bahwa perempuan adalah makhluk perasa, jadi sifat ketegaran ayah bisa menjadi panutanku๐Ÿ˜€. Cinta seorang ayah terhadap anaknya pun tidak kalah dengan cinta ibu kepada anak-anaknya. Ayah adalah sosok yang diam-diam penyayang, bukan melalui kata-kata tetapi dari caranya. ๐Ÿ’“

Well, Bapakku merupakan sosok yang sangat disiplin. Berdasarkan kisah yang telah beliau ceritakan, memang sedari kecil beliau sudah dididik oleh orang tuanya untuk hidup mandiri, ditambah lagi beliau adalah seorang mantan olahragawan tinju dan pelatih angkat besi. Maka, tak heran bila didikannya sedikit keras. Anak-anaknya tidak boleh tidur di pagi hari, mengharuskan anak untuk bisa me-manage waktu. Tapi, keras-keras begitu beliau tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk melakukan/menjadi apa yang beliau inginkan. Selalu memberikan kebebasan dan kepercayaan terhadap pilihan anaknya, asalkan itu positif. Ya, aku merasa beruntung karena tidak dituntut oleh orang tua untuk menjadi ini-itu sama mereka, sebab tidak semua orang diberi kebebasan oleh orang tua mereka untuk memilih pilihannya sendiri. Komunikasi antar bapak-anak pun ada setiap malam (tidak selalu, tetapi sering). Nasihat-nasihat yang terlontar secara tegas dari mulut bapak selalu membuat aku termotivasi. Beliau memiliki ciri khas tersendiri, yaitu selalu berbicara "Lakukan yang terbaik, terbaik, dan yang terbaik!" 

Menurutku, bapakku itu adalah orang yang multitalent. Semuanya bisa beliau lakukan, baik itu memasak, menyangkul, dan lain-lain. Hanya saja saat memasak bapak suka bereksperimen. Beliau pernah masak telur dicampur dengan sayur kangkung (rasanya ternyata enak, lho!), pernah juga masak bakwan campur bawang (kalau yang ini, rada... ๐Ÿ˜). Rasa ingin tahunya yang kuat itu selalu menggiringnya untuk mencobanya,  tidak akan puas bila tidak dicoba.

Dan di tahun 2015 lalu, aku pernah mengikuti sebuah pertandingan Pencak Silat antar sekolah. Namun, aku tidak suka bertanding jika ditonton oleh orang tua ku, sebab, kalau nanti kalah malah takut akan mengecewakan mereka. Tapi, si bapakku ini tetap ngotot ingin nonton aku bertanding dengan cara diam-diam datang kesini, bahkan beliau sampai rela meninggalkan pekerjaannya di kantor. Dan, aku baru menyadari kehadirannya saat sudah selesai bertanding. Langsung ku hampiri beliau dengan menunjukkan mimik ekspresi malu karena kebetulan waktu itu aku kalah, tetapi hebatnya beliau tidak marah sedikit pun kepadaku. Beliau malah memberi aku semangat untuk ikut pertandingan lagi di next event. Beliau tahu betul gimana rasanya dimarahi saat selesai bertanding hanya gara-gara kalah, maka dari itu bapakku tidak ingin melihat putri kecilnya ini bersedih. Hmm, beliau memang suka memberikan dukungan dan berusaha menyempatkan waktu untuk datang melihat anaknya lomba/tanding walau hanya sebentar. Sudah ku katakan, bapak memang tidak pernah mengatakan "sayang" kepada anaknya secara langsung, tetapi melalui tindakannya aku bisa merasakan.

Dulu bapak pernah bilang, "Orang tua ngalah dulu yang penting keperluan anak-anak terpenuhi." Disitu aku langsung merasa apa yang sudah aku berikan kepada mereka? Tidak ada. Kasih sayang orang tua kepada anaknya memanglah begitu luar biasa, hanya saja kita sebagai anak seringkali menuntut mereka untuk menjadi orang tua yang sempurna bagi kita. Cukup egois memang bila kita merasa paling menderita, padahal orang tua jauh lebih dibanding kita. Namun, mereka tidak pernah menunjukkan keluhannya sedikitpun dihadapan anak-anaknya. Bapak, yang bekerja di luar, apakah kamu tahu apa sedang ia lalui diluar sana? Apakah ia sudah makan setelah seharian mencari nafkah? Tidak, kita tidak tahu. Sama sepertiku, waktu itu bapakku jatuh dari motor dan masuk ke parit kecil saat hendak belok ke komplek, dan aku tidak akan tahu cerita itu kalau mamak tidak cerita. Jangan pernah merasa bahwa kamu berada di keluarga yang tidak baik, aku yakin setiap orang tua pasti memiliki sisi baiknya. Tergantung kitanya saja mencari sisi apanya? Kalau mencari sisi baiknya maka kita akan melihat sisi baiknya tersebut, begitupun sebaliknya.

Bapakku itu merupakan seseorang yang suka berpikir, kapanpun dan dimanapun beliau suka berpikir. Biasanya aku suka melihat beliau duduk di tempat kursinya itu sedang mikir sambil mengepus rokok. Eh, kok bisa tahu? Ya, beliau pernah cerita katanya kalau tidak merokok tidak bisa mikir. Bapakku memang pecandu rokok yang kuat, pernah ingin berhenti namun tidak bisa karena memang sudah candu. Rokok setia bapak itu mereknya Sampoerna. Pesanku untuk yang sedang membaca blog ini jangan merokok ya, karena kesehatan itu penting. Rokok hanya akan menghabiskan uangmu saja, rasa nikmat di rokok pun akan habis bila batang rokoknya sudah habis. Oke, balik ke topik. Kita tidak tahu apa yang sedang dipikir dan dirasa sama orang tua kita, maka kita sebagai anak pun jangan bertingkah aneh-aneh karena akan membuat beban pikiran mereka bertambah.

Bapakku sudah almarhum sejak tanggal 13, bulan Agustus, tahun 2018. Dimana waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Hari itu adalah hari yang begitu sulit untuk aku lalui, tak menyangka memang karena bapak meninggal secara mendadak. Sekarang aku hanya bisa mengenang masa-masa indah bersamanya dulu dan akan terus berdoa untuk beliau, selalu. Bapakku adalah seorang pekerja keras, pelatih yang hebat, sang penyemangat, yang selalu membawakan kotak nasi kerumah setelah pulang acara dari kantornya, yang suka membelikan kerupuk.

Terutuk kalian yang masih memiliki orang tua lengkap. Jangan pernah sia-siakan masa mu bersama mereka, karena kesempatan itu tidak akan terulang dua kali dan penyesalan pun datang ketika kita tidak melakukan hal-hal pada kesempatan yang telah diberi. Jangan nunggu kehilangan baru sadar, karena kesadaranmu itu disertai dengan penyesalan. Bukankah itu menyakitkan? Dan teruntuk yang sudah tidak ada, jadilah anak yang baik yang selalu mendoakan orang tua. Aku yakin, kalian adalah pilihan-pilihan orang yang hebat.


๐Ÿ’“

Komentar